Gairah
Gairah mungkin adalah kata dalam bahasa Indonesia yang mempunyai makna terdekat dengan kata passion. Saya mengalami sedikit kesulitan dalam mencari terjemahan yang tepat untuk kata tersebut. Namun, demi menyelesaikan naskah ini, saya memutuskan untuk mengabaikan sedikit perbedaan yang ada di antara kedua kata itu.
Jika Anda menanyakan kepada saya apa yang hilang dari hidup saya selama masa menempuh universitas, jawabannya adalah gairah. Hari-hari berlalu dengan kewajiban dan tanggung jawab, disertai sedikit rekreasi dan hiburan yang membantu saya bertahan melalui salah satu masa paling membosankan yang pernah saya alami.
Saya sering menyalahkan diri sendiri dan merasa menjadi seorang pecundang yang tidak mempunyai mimpi ataupun gairah dalam hidup ini. Saya selalu berpikir bahwa hilangnya gairah tersebut disebabkan oleh kemalasan saya sendiri, yang telah menyalahgunakan kebebasan dari pengawasan orang tua yang baru saya raih.
Namun, pandangan tersebut berubah setelah kehadiran beberapa teman baru, orang-orang muda yang masih mempunyai gairah membara, gairah terhadap hal yang sama dengan apa yang dulu membuat hati saya berkobar. Gairah saya mulai menyala kembali, saya mulai merasakan kembali semangat di tulang-tulang dan otot-otot saya. Hari-hari saya menjadi lebih cerah dan menyenangkan.
Ternyata bukan kemalasan yang mencuri gairah saya selama itu. Kurangnya teman yang mempunyai gairah yang sama membawa kekecewaan yang perlahan tapi pasti memadamkan semangat saya. Namun, saya tidak dapat mengkambinghitamkan orang lain, kurangnya inisiatif untuk mencari orang yang punya gairah yang samalah yang pantas disalahkan.
Takut dan Kuatir
Pernahkah kita menanyakan seberapa dingin atau gelapnya sesuatu? Jika pernah, sadarkah bahwa kita telah salah kaprah mengenai makna dari dingin dan gelap? Dingin maupun gelap bukanlah suatu besaran yang dapat diukur nilainya. Dingin (cold), atau tidak panas (hot), bermakna suatu kondisi di saat kalor (heat) absen atau rendah nilainya, seperti halnya gelap (dark), atau tidak terang (bright), di mana tiada cahaya (light) atau rendah intensitasnya.
Kadang kita juga salah mengerti arti kata takut dan keberanian. Beberapa beranggapan bahwa menjadi berani, atau memiliki keberanian, berarti tidak mempunyai rasa takut. Mereka berusaha menjadi berani dengan menyangkal ketakutan mereka, yang pada akhirnya hanya membuang-buang tenaga tanpa hasil yang jelas. Takut (fear), atau tidak berani (brave), seperti halnya dingin dan gelap, adalah suatu kondisi atau situasi di mana seseorang tidak memiliki keberanian (courage), atau rendah keberaniannya.
Merasa takut adalah hal yang manusiawi, semua orang mengalaminya, sering atau jarang. Yang menjadi permasalahan bukanlah perasaan takut itu sendiri, namun sikap yang diambil dalam menghadapi ketakutan tersebut. Apakah kita menjadi khawatir (worry) saat perasaan takut itu datang, atukah kita menguatkan hati dan memompa naik nilai keberanian kita untuk melawan rasa takut itu.
Di saat dunia menghadapi goncangan ekonomi seperti saat ini, kekhawatiran adalah hal terakhir yang kita harapkan. Kekhawatiran yang berujung panik lah yang membuat keadaan menjadi semakin parah seperti saat ini. Padahal, jika saja setiap kita tetap tenang, berusaha mengumpulkan sedikit keberanian untuk menjadi berani, krisis akan lebih cepat berlalu dengan imbas yang lebih ringan.